Bisabasi.id – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah yang diperkirakan jatuh pada pertengahan Februari 2026, umat Islam diingatkan untuk segera menunaikan puasa qadha Ramadhan bagi yang masih memiliki utang puasa tahun sebelumnya.
Mengganti puasa yang ditinggalkan bukan sekadar anjuran, melainkan kewajiban syariat bagi setiap muslim yang tidak berpuasa karena alasan yang dibenarkan agama. Puasa qadha memiliki kedudukan hukum yang sama pentingnya dengan puasa Ramadhan itu sendiri, sehingga harus ditunaikan sebelum Ramadhan berikutnya tiba.
Pelaksanaan puasa qadha bertujuan agar seluruh kewajiban ibadah puasa benar-benar tuntas dan tidak menumpuk hingga memasuki bulan suci di tahun yang baru.
Golongan yang Wajib Mengqadha Puasa Ramadhan
Puasa Ramadhan diwajibkan bagi setiap muslim yang telah memenuhi syarat. Namun, Islam memberikan keringanan (rukhsah) kepada beberapa golongan tertentu untuk tidak berpuasa, di antaranya:
-
Orang yang sedang sakit
-
Musafir atau orang yang melakukan perjalanan jauh
-
Perempuan yang sedang haid atau nifas
-
Ibu hamil dan menyusui yang khawatir terhadap kondisi diri atau bayinya
Meski diperbolehkan tidak berpuasa, golongan tersebut tetap memiliki kewajiban mengganti puasa di hari lain di luar bulan Ramadhan sesuai jumlah hari yang ditinggalkan.
Dasar Hukum Puasa Qadha dalam Al-Qur’an dan Hadis
Kewajiban puasa qadha secara tegas disebutkan dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 184, yang menjelaskan bahwa siapa pun yang berbuka karena sakit atau perjalanan jauh wajib mengganti puasa tersebut di hari lain.
Ketentuan ini diperkuat dengan hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Aisyah RA. Beliau menyampaikan bahwa dirinya pernah memiliki utang puasa Ramadhan dan baru dapat mengqadhanya pada bulan Sya’ban, menjelang Ramadhan berikutnya.
Hadis ini menjadi dalil kuat bahwa puasa qadha boleh dilakukan kapan saja di luar Ramadhan, asalkan belum memasuki Ramadhan selanjutnya.
Bacaan Niat Puasa Qadha Ramadhan
Perbedaan mendasar antara puasa qadha dan puasa sunnah terletak pada niatnya. Niat merupakan rukun puasa yang wajib dilakukan dengan kesungguhan hati.
Berikut bacaan niat puasa qadha Ramadhan:
Arab:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى
Latin:
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’i fardhi syahri Ramadhāna lillâhi ta‘âlâ.
Artinya:
“Saya berniat berpuasa untuk mengganti puasa Ramadhan karena Allah Ta‘ala.”
Waktu dan Tata Cara Puasa Qadha
Dalam mazhab Syafi’i, niat puasa qadha wajib dilakukan pada malam hari sebelum terbit fajar. Ketentuan ini merujuk pada hadis Nabi SAW yang menyatakan bahwa puasa tidak sah tanpa niat di malam hari.
Dosen Fakultas Syariah UIN Raden Mas Said Surakarta, Shidiq, M.Ag, menjelaskan bahwa puasa qadha sebaiknya dilaksanakan sesegera mungkin dan dianjurkan dilakukan secara berurutan.
Meski demikian, puasa qadha yang dilakukan tidak berurutan tetap sah, selama seluruh utang puasa dapat ditunaikan sebelum Ramadhan berikutnya.
Konsekuensi Menunda Qadha Puasa dan Anjuran Amal
Umat Islam dianjurkan mencatat dengan baik jumlah hari puasa yang ditinggalkan agar qadha dapat dilakukan secara tepat.
Apabila seseorang dengan sengaja menunda qadha puasa hingga masuk Ramadhan berikutnya tanpa alasan syar’i, maka ia wajib membayar fidyah, selain tetap mengganti puasa yang ditinggalkan.
Selama menjalankan puasa qadha, umat Islam juga dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah, seperti:
-
Membaca Al-Qur’an
-
Berdzikir dan berdoa
-
Bersedekah
-
Menjaga lisan dan perbuatan
Dengan menunaikan puasa qadha tepat waktu, umat Islam dapat menyambut Ramadhan 1447 H dengan hati yang lebih tenang dan ibadah yang lebih sempurna.